TUGAS OBSERVASI PENELITIAN, PARIWISATA DI GARUT

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan karuniaNyalah, karya ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik, tepat pada waktunya,Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memenuhi tugas dengan judul Pengembangan Pariwisata Berwawasan Lingkungan Budaya.Dengan membuat tugas ini kami diharapkan mampu untuk lebih mengenal tentang Kepariwisataan dan kebudayaan yang berkembang sebagai kota wisata budaya, yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia dan seringkali luput dari pengamatan kita sebagai masyarakat Indonesia.

Dalam penyelesaian karya ilmiah ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya karya ilmiah ini dapat terselesaikan dengan cukup baik.

            Harapan kami, semoga karya ilmiah yang sederhana ini, dapat memberi kesadaran tersendiri bagi generasi muda bahwa kita juga harus mengetahui adat dan kebudayaan khususnya dalam pariwisata indonesia dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia, karena kita adalah bagian dari keluarga besar Indonesia tercinta.

Sigli, 03 Agustus, 2016

           Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………….. ii

BAB 1 PENDAHULUAN          

A.     Latar Belakang Masalah……………………………………………………………….. 1

B.     Identifikasi Masalah……………………………………………………………………… 2

C.     Pembatasan Masalah…………………………………………………………………….. 2

D.     Perumusan Masalah……………………………………………………………………… 2

E.      Tujuan………………………………………………………………………………………… 2

BAB II PEMBAHASAN

1. Pentingnya Pengembangan Sektor Pariwisata………………………………………. 3

2. Kedudukan Lingkungan Budaya dalam Pariwisata………………………………. 4

3.Solusi Pengembangan Pariwisata Berwawasan Lingkungan……………………. 5

4. Pembangunan dan Nilai Budaya………………………………………………………… 7

5. Pariwisata Budaya……………………………………………………………………………. 8

6.Peluang Alternatif lewat menghormati Keragaman dan Komunitas Budaya 8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan………………………………………………………………………………… 10

B. Saran…………………………………………………………………………………………. 10

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………… 11

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Perkembangan sektor pariwisata ini di satu sisi memberikan keuntungan ekonomis yang cukup tinggi. Keuntungan ekonomis ini membawa pengaruh pada pendapatan negara secara umum dan kesejahteraan masyarakat sekitar secara khusus. Kehadiran wisatawan dapat diartikan sebagai kehadiran rezeki bagi sejumlah orang mulai para pemandu wisata, tukang becak, sampai dengan para pedagang. Dengan demikian, sektor pariwisata bukan sekedar memberikan keuntungan bagi pelaku-pelaku bidang pariwisata melainkan juga memberikan keuntungan sektor-sektor lain di luar pariwisata.

Namun, karena tuntutan untuk mencari keuntungan ekonomi semata, ada sejumlah hal yang pada akhirnya terkorbankan atau tidak diperhatikan. Misalnya saja, karena tuntutan penyediaan penginapan bagi para wisatawan, sejumlah tempat dibongkar untuk mendirikan hotel. Karena tuntutan pengembangan pariwisata terjadi pembebasan tanah besar-besaran.

Dalam arti yang sangat luas, kebudayaan dapat dinyatakan sebagai keseluruhan masalah-masalah sepiritual, material, segi-segi intelektual dan emosional yang beragam,dan memberi watak kepada suatu masyarakat atau kelompok sosial.Kebudayaan juga dapat pula diartikan sebagai segenap perwujudan dan keseluruhan hasil pikiran (logika), kemauan (etika), serta perasaan (estetika) manusia dalam rangka perkembangan pribadi manusia; hubungan manusia dengan manusia,hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan Tuhan (Bandem, 1995). Para ahli kebudayaan menekankan pentingnya aspek kebudayaan diperhitungkan dalam pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1990), adalah kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dirinya dengan belajar. Selanjutnya menurut Koentjaraningrat, ada tujuh unsur kebudayaan secara universal, yaitu; (1). Bahasa, (2). Sistem teknologi, (3). Sitem mata pencaharian atau ekonomi, (4). Organisasi sosial, (5). Sitem pengetahuan, (6). Religi, dan (7). Kesenian.

Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau besar dan kecil, dan pendukungnya terdiri dari kelompok-kelompok suku bangsa yang sangat beragam wujudnya. Jika dipandang dari sudut budaya, di Indonesia terdapat budaya-budaya yang sangat beragam (pluralistik), mulai dari adanya budaya lokal, suatu kebudayaan yang berlaku dalam lingkungan keluarga; kebudayaan daerah, suatu kebudayaan yang disepakati oleh daerah atau suku bangsa tertentu seperti kebudayaan Jawa, Bali, Minang, Sunda, Bugis, Sasak, Dayak, Papua, Madura, dan sebagainya. Wawasan aneka budaya (multikultural) dalam dasawarsa terakhir ini banyak sekali ditampilkan dan dianjurkan dalam berbagai forum (Edi Sedyawati 2002), namun sebenarnya perlu disadari bahwa situasi aneka budaya itu tidak sama di semua negara, meskipun sama-sama mempunyai keanekaragaman budaya.

B. Identifikasi Masalah

Melihat semua hal yang melatar belakangi Kebudayaan pariwisata maka, kami menarik beberapa masalah dengan berdasarkan kepada :

–  Kurangya perhatian dari masyarakat kebanyakan pada lingkungan kebudayaan. Sehingga kurangya pengetahuan masyarakat tentang kepariwisataan lingkungan budaya.

C.  Pembatasan Masalah

Karena cangkupan kebudayaan yang begitu luas dan meliputi berbagai aspek kehidupan, maka kami hanya membataskan penelitian hanya dari segi  Unsur dan aspek Kebudayaan dan kepariwisataan dari masyarakat Garut. Serta perkembangnnya sampai dengan sekarang ini.

D. Perumusan Masalah

Atas dasar penentuan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka kami dapat mengambil perumusan masalah sebagai berikut:

”Bagaimana dengan diterapkannya Pariwisata dengan Berwawasan Lingkungan Budaya serta Perkembangannya sekarang ini?”

E.  Tujuan

Tujuan penulisan karya ilmiah ini, yaitu untuk memberikan informasi mengenai Perkembangan pariwisata berwawasan lingkungan budaya yang meliputi beberapa aspek-aspek dalam meningkatkan kepariwisataan indonesia yang mendorong pengembangan sektor-sektor lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

BAB II

PEMBAHASAN

PENGEMBANGAN PARIWISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN BUDAYA

1.  Pentingnya Pengembangan Sektor Pariwisata

Dalam kehidupan masyarakat modern, rekreasi merupakan kebutuhan hidup manusia yang tidak dapat dihilangkan lagi. Hal ini berkaitan erat dengan kesibukan hidup sehari-hari yang pada akhirnya membutuhkan penyeimbang berupa kesantaian dan refresing. Kebutuhan akan kesantaian dan refresing ini perlu mendapat jawaban berupa bisnis rekreasi dan hiburan. Dalam hal ini sektor pariwisatalah yang berkepentingan.

Dari sisi lain, pengembangan sektor pariwisata mampu mendorong pengembangan sektor-sektor lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung.Pengembangan kawasan pantai misalnya,akan mendorong pengembangan bidang transportasi baik berupa perbaikan jalan maupun route angkutan kendaraan umum. Perbaikan sarana jalan dan angkutan kendaraan umum mengakibatkan daerah di sekitarnya terbebas dari isolasi, yang pada akhirnya membawa pengaruh pada dinamika kehidupan penduduknya. Di samping itu, pengembangan sektor pariwisata membuka peluang bagi penduduk sekitarnya untuk meningkatkan taraf perekonomian melalui bisnis rumah makan maupun penginapan.

Dalam skala yang lebih besar, kesejahteraan dunia membawa pengaruh pada orang-orang dari berbagai penjuru dunia untuk mengenal kebudayaan dari negara lain. Salahsatu caranya adalah dengan mengadakan perjalanan wisata. Keingintahuan ini menghasilkan keuntungan ekonimis berupa masuknya devisa pada keungan negara. Pada akhirnya, bisnis pariwisata memberikan keuntungan yang cukup besar dari berlapis bagi bangsa dan masyarakat.

Melihat sejumlah indikator di atas, pengembangan sektor pariwisata tampaknya menjadi sesuatu yang penting dan perlu mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak. Karena jika sektor ini tidak mendapat perhatian khusus, mata rantai pencarian nafkat mulai dari para tukang becak, pemandu wisata, pengelola perjalanan wisata, sampai keuangan negara akan terpengaruh. Sebaliknya jika sektor ini pendapat perhatian khusus dan pada akhirnya sektor ini menjadi maju, banyak pihak yang diuntungkan.

2.  Kedudukan Lingkungan Budaya dalam Pariwisata

Pengembangan pariwisata meliputi berbagai bidang. Di antaranya adalah pengembangan wisata alam (pantai, gunung, gua) dan pengembangan wisata budaya (upacara tradisional, pakaian tradisional, tari). Kedua bidang tersebut sama-sama memiliki daya tarik khusus bagi para wisatawan. Namun, jika kita mau mencoba mencermati kecenderungan para wisatawan khususnya wisatawan mancanegara, bidang yang menjadi daya tarik utama adalah bidang kebudayaan. Pariwisata alam tampaknya hanya menjadi “tempat beristirahat” bagi para wisatawan.

Ketertarikan wisatawan pada bidang budaya dapat diketahui dari berbagai indikator. Pertama, banyaknya wisatawan yang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Keingintahuan wisatawan terhadap Kraton Yogyakarta dilandasi oleh keingintahuan akan pusat kebudayaan Jawa. Kedua, banyaknya wisatawan yang tertarik membeli benda-benda tradisional khas. Ketiga, banyaknya wisatawan yang tertarik mempelajari budaya khas seperti menari dan membatik. Keempat, banyaknya wisatawan yang tertarik dengan keramahtamahan kita dalam menanggapi mereka.

Dalam jangka panjang, bidang kebudayaan tampaknya akan lebih mendominasi motivasi wisatawan. Hal ini berkaitan erat dengan semakin langkanya nuansa tradisional di negara-negara maju.Karena kelangkaan tersebut, banyak orang ingin mengetahui bentuk-bentuk budaya asli nenek moyang mereka.

Jika sektor pariwisata budaya ini benar-benar dikelola oleh pemerintah, Garut akan mampu bersaing dengan negara-negara lain yang maju dan mempunyai komitmen untuk mengembangkan pariwisata budaya seperti Korea dan Jepang. Namun, jika sektor ini justru tidak terperhatikan, dan fokus pengembangan hanya pada pariwisata alam, lama kelamaan para wisatawan akan bosan karena pada dasarnya pariwisata alam bersifat statis dan sekali datang.

Namun demikian, jika pengembangan pariwisata budaya ini dikembangkan dengan sembarangan, pengembangan pariwisata ini bisa menjadi bumerang atas kebudayaan itu sendiri. Eksploitasi besar-besaran terhadap pariwisata budaya akan mengakibatkan budaya tersebut kehilangan kualitasnya. Akibatnya, kebudayaan hanya sekedar simbol-simbol mati, tanpa makna.Pembisnisan budaya yang berlebihan juga akan mengaburkan hakikat dari kebudayaan itu sendiri. Pada akhirnya, kebudayaan tercabut dari asal-usulnya, yaitu masyarakat.

Pada sektor lain, pengembangan kebudayaan yang hanya diorientasikan pada pariwisata juga akan mengakibatkan para pelakunya terlalu “bisnis oriented”.  Bisnis oriented dalam bidang budaya atau komersialisasi budaya  sebenarnya merupakan efek samping terjadinya transformasi budaya dalam proses pembangunan suatu negara. Menurut Suyatno Kartodirdjo (1992:145), ada empat masalah yang timbul sebagai akibat tranformasi budaya, yaitu masalah ketahanan budaya dan konflik nilai, masalah komersialisasi budaya, masalah materialisme dan konsumerisme, dan masalah konflik sosial.

Akibatnya, motivasi utamanya bukan lagi menunjukkan keluhuran budaya yang dimilikinya melainkan pada pertimbangan bisnis semata. Jika hal itu terjadi, kebudayaan bisa dimanipulasi demi kepentingan bisnis. Bahkan jika tidak diperhatikan secara sungguh-sungguh hal itu akan mengakibatkan munculnya budaya baru yang tidak berakar pada kepribadian dan identitas bangsa. Transoformasi yang tidak berakar pada kedua hal tersebut akan menghasilkan budaya modern yang pada gilirannya akan menelan jenis budaya-budaya (tradisional) yang mempunyai nilai-nilai pencerminan kepribadian bangsa dan identitas bangsa (Kartodirdjo, 1992:146).

Dalam hubungannya dengan transformasi kebudayaan sebagai akibat pengembangan sektor pariwisata, ada baiknya disimak pendapat dari Sutan Takdir Alisahbana(Rahmanto, 1992:141). Beliau mengatakan bahwa transformasi budaya yang disebabkan oleh penerapan teknologi maju yang terlepas dari perspektif budaya bangsa akan mengakibatkan manusia dikuasai teknologi, dan bukan sebaliknya. 

3. Solusi Pengembangan Pariwisata Berwawasan Lingkungan

Permasalahan pokok yang kiranya perlu dicari jalan keluarnya adalah bagaimana kita mampu mengembangkan pariwisata yang berwawasan lingkungan budaya. Dalam hal ini ada beberapa hal yang sekiranya dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan kebudayaan.

Pertama, pembangunan fisik yang memperhatikan kekhasan Yogyakarta. Sebagai bagian dari kebudayaan Jawa, masyarakat Yogyakarta mengenal berbagai bentuk bangunan fisik. Dalam rangka menciptakan lingkungan budaya, fasilitas-fasilitas penunjang pariwisata seperti hotel, rumah makan, dan rumah penduduk sebaiknya mencerminkan bentuk bangunan khas Yogyakarta. Gedung-gedung bertingkat, rumah dengan bentuk atau corak barat, dan fasilitas perkantoran bergaya Barat sebaiknya dibatasi secara sungguh-sungguh. Dominasi gedung bertingkat dan rumah bergaya Barat mengakibatkan bentuk-bentuk fisik khas Yogyakarta menjadi pudar dan lama kelamaan hilang dengan alasan ekonomis (penghematan tempat).

Dalam kaitannya dengan mempertahankan kekhasan budaya Yogyakarta, ada baiknya kit simak pendapat dari P.J. Suwarno (1992). Beliau mengatakan bahwa Sultan yang memegang kekuasaan kharismatik, tradisional, dan legal-rasional menggunakan kekuasaan itu secara bijaksana untuk mentransformasikan Yogyakarta dari tradisional ke modern tanpa menghancurkan tradisi, tetapi menyeleksinya untuk dimanfaatkan dalam modernisasi Yogyakarta. Jika pendapat itu kita hubungkan dengan upaya mempertahankan bentuk fisik khas Yogyakarta, dapat dikatakan bahwa boleh jadi bentuk luarnya adalah bentuk khas Yogyakarta tetapi fasilitas dalamnya dikemas dalam nuansa modern.

Kedua, menghidupkan wisata budaya tradisional. Wisata tradisional yang dimaksudkan di sini adalah penyajian berbagai bentuk kebudayaan  tradisional kepada para wisatawan. Bentuk-bentuk kebudayaan tradisional yang dimaksudkan antara lain jathilan, kirab pusaka, sekaten, dolanan bocah, dan upacara adat. Bentuk-bentuk kebudayaan ini sebenarnya memiliki daya tarik tinggi tetapi karena jarang dipertunjukkan secara rutin, para wisatawan kadang-kadang kesulitan menyaksikannya.

Ketiga, memberikan pendidikan budaya pada generasi muda. Sumber kemerosotan budaya  sebenarnya bermula dari ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya pemeliharaan kebudayaan bagi kelangsungan hidup sektor pariwisata. Akibat ketidaktahuan ini, banyak generasi muda justru mengikuti kebudayaan asing daripada memelihara kebudayaan sendiri. Sehingga, ketika mereka berhadapan dengan para wisatawan, yang dikedepankan adalah sikap dan perilaku yang meniru mereka, seperti berbicara dengan bahasa asing, berpakaian dengan gaya asing, dan bahkan berperilaku yang tidak sesuai dengan kebudayaan sendiri.

Slamet Sutrisna ( 1992:147) mengatakan bahwa perubahan kebudayaan tidak hanya melibatkan sistem normatif tetapi juga melibatkan sistem kognitif. Dalam hubungannya dengam masyarakat Indonesia yang sedang membangun, budaya keilmuan harus dikembangkan sebagaimana mestinya. Dengan demikian, pengembangan dan pelestarian lingkungan budaya perlu dihubungkan dengan proses pendidikan bagi generasi penerusnya.

Keempat, penghargaan terhadap warisan nenek moyang. Warisan nenek moyang kita berupa tosan aji, gebyog, perabot tradisional, dan barang antik lainnya tampaknya semakin merosot seiring dengan maraknya bisnis barang antik. Banyak sekali perabot tradisional yang diperjualbelikan dan diekspor ke luar negeri. Keuntungan ekonimisnya memang cukup besar, namun kita kehilangan barang-barang warisan nenek moyang. Padahal barang-barang seperti itu juga memiliki nilai sejarah dan memiliki daya tarik pariwisata. Jika pada akhirnya benda-benda seperti itu habis berpindah ke luar negeri, pariwisata kita akan kehilangan obyek yang bisa dipromosikan.

Kelima, pengalokasian dana untuk pengembangan kebudayaan. Dalam hubungannya dengan anggaran pembangunan, anggaran pembangunan sarana fisik tampaknya masih menjadi perhatian utama dan menyerap banyak sekali dana. Padahal, pengembangan sarana fisik inilah yang secara langsung menghancurkan lingkungan budaya masyarakat tertentu. Munculnya hotel megah di antara rumah penduduk membawa akibat berubahnya budaya masyarakat sekitarnya. Alangkah baiknya jika dalam waktu mendatang pengalokasian dana untuk pengembangan kebudayaan ditambah atau diperbesar. Masyarakat tradisional sebenarnya masih ingin memainkan jathilan, tayub ataupun slawatan. Namun karena terbentur pada masalah anggaran mereka tidak mampu mengembangkan kebudayaan itu. Jika tersedia anggaran, niscaya mereka akan dengan senang hati mengadakan pertunjukan jathilan secara rutin, mereka akan senang hati mengadakan pertunjukan tayub secara rutin. Apalagi jika para pelaku budaya tersebut  mendapat insentif berupa uang lelah atas pentas mereka.

4.  Pembangunan dan nilai budaya

Persoalan kompleks disekitar pembangunan bangsa dapat kita pahami bersama yaitu persoalan daya guna, keadilan, dan kesejahteraan yang belum merata. Ada kelemahan yang mewarnai konsep pembangunan yang menekankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan konsep tricking down effect (Tjatra, 2004), dan muncullah berbagai konsep pembangunan alternatif, seperti ecodevelopment dan sustainable development. Pendekatan ekologi – ecodevelopment memandang keberlanjutan pembangunan dari sudut sejarah kebudayaan masyarakat tertentu, keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat biasa, ethno-ecology, dan keadaan alam yang mewarnai ecosistem setempat dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia yang tinggal dalam lingkungannnya.

Budaya modern membedakan dan menyepakati berbagai hubungan politik,ekonomi, budaya antara saat ini dan masa depan (Tian Feng, 1999), untung dan rugi lewat perubahan hari ini dan besok dari strategi berlawanan. Oleh sebab itu, uji coba penting saat ini adalah, memberikan masyarakat mempelajari dan menganalisa “modern dan tradisional”, “seni dan teknologi”, “jiwa dan tubuh”, “materi dan ruh”, dari sisi positif dan negatif sains dan teknologi modern. Karena lewat jalan berlawanan kita akan melihat dengan jelas keindahan dan keburukan, kebaikan dan kejelekan, tinggi dan rendah, puas dan serakah, jauh dan dekat, untung dan rugi, dan lain-lain, untuk mengetahui segalanya. Manifesto kebudayaan pluralistik juga merupakan salah satu dari kebudayaan tradisional, demikian juga manifesto ekonomi dan politik pluralistik. Dengan demikian persentuhan antar budaya tidak saja melampaui batas-batas geografis, tetapi juga bersilangan dalam dimensi waktu – bergerak kemasa lampau dan masa depan.

5.  Pariwisata Budaya

Banyak pakar budaya yang menganggap bahwa industri pariwisata berdampak kurang baik, bahkan merusak perkembangan seni pertunjukan di negara berkembang(Soedarsono,1999).Industri pariwisata dikatakan merusak, mendesakralisasikan, mengkomersialisasikan seni pertunjukan tradisional, dan sebagainya. Lebih lanjut Soedarsono dalam hasil penelitiannya, bahwa dalam menilai kemasn seni pertunjukan wisata digunakan teori serta konsep yang benar dan cocok, jelas industri pariwisata memperkaya perkembangan seni pertunjukan Indonesia Kebudayaan ekspresif, seperti tarian, musik, dan teater, sekarang ini menjadi bentuk-bentuk hiburan dan komoditi komersial.

6.  Peluang alternatif lewat menghormati keragaman dan komunitas budaya.

Secara umum, tradisi-tradisi budaya di Indonesia mengutamakan keselarasan hubungan-hubungan orang-perorang dalam masyarakat yang dilandasi prinsip-prinsip rukun dan hormat (Soehardi, 2001:3-26). Artikulasi keselarasan itu berbeda dari masyarakat suku bangsa satu dengan lainnya, tetapi prinsip-prinsip kerukunan yang diwujudka dalam aktivitas gotong-royong dapat dijumpai di semua suku bangsa yang ada di Indonesia. Perjalanan perkembangan suatu kebudayaan dan masyarakat dalam sejarahnya tidak pernah tertutup dari persinggungan budaya-budaya lain. Dimana kontak-kontak budaya regional, atau antar benua sudah berlangsung dari zaman awal sejarah samapi sekarang (melalui perkembangan komunikasi global seolah-olah antar budaya kini menjadi tanpa batas). Kalau dilihat dari teori evolusi, maka perubahan-perubahan yang terjadi tersebut dapat dipandang sebgai suatu „progress‟ yang sejalan dengan proses evolusi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Dengan demikian proses perubahan semacam ini dapat dialami hampir semuan bangsa-bangsa di dunia, termasuk suku-suku bangsa di Indonesia; Jawa, Bali, Sunda, Minang, Batak, dan yang lainnya.

 Kontak masyarakat Bali dengan budaya luar bukan sesuatu hal baru, karena telah terjadi ribuan tahun yang lalu. Hal ini dapat dilihat dari adanya berbagai „pengaruh luar‟ dalam adat budaya Bali, seperti pengaruh India, Cina, Arab dan – tentu saja – Jawa (MPLA, 1991; Mantra, 1993; Barth, 1993, dalam Pitana, 1994:156-157). Selanjutnya intensitas kontak kebudayaan Bali dengan kebudayan luar meningkat secara dramatik pada paruh kedua abad ini, yang terkait erat dengan adanya perkembangan teknologi yang pesat dibidang komunikasi dan transportasi, serta keberhasilah Bali menjadikan dirinya sebagai daerah tujuan wisata yang terkenal di dunia (ibid, 157). Dari prespektif sejarah, kebudayaan Bali memiliki keterbukaan dengan kebudayaan luar dan memperlihatkan sifat fleksibel dan adaptif. Potensi ini penting artinya untuk menghindari perbenturan antar budaya. Jika dilihat dari tatanan sejarah nasionalisme Indonesia, juga dapat dipahami bahwa konsep wawasan kebangsaan adalah “persatuan dan kesatuan”. Seperti dari pernyataan Presiden Soeharto, pada Dharma Santi Penyepian 1997, dalam Dewa Atmaja (2002), “bahwa dari kenyataan keanekaragaman suku bangsa, adat istiadat dan budaya di Indonesia yang penting bukan masing-masing suku, bahasa, atau budayanya, akan tetapi keseluruhan suku bangsa, adat-istiadat, budaya,

BAB III

LOKASI YANG DI JADIKAN PENELITIAN

  1. Tempat Wisata Budaya

a. KAMPUNG PULO

Sejarah Kampung Pulo

Menurut cerita Bapak xxxx sesepuh Adat Kampung Pulo Bahwa  masyarakat Kampung Pulo ini dulunya mayoritas memeluk agama Hindhu, kemudian Embah Dalem Muhammad singgah di daerah ini , ia terpaksa mundur karena mengalami kegagalan dalam penyerangan terhadap Belanda. Karena kegagalan ini, Embah Dalem Arif Muhammad tidak mau kembali ke Mataram karena malu dan takut pada Sultan Agung, beliau memilih untuk menetap di daerah Cangkuang yaitu di Kampung Pulo dan mulai menyebarkan agama Islam pada masyarakat kampung Pulo hingga beliau wafat dan dimakamkan di Kampumg Pulo.

Doc.Makam Embah Dalem Arif Muhammad sebelahan dengan candi cangkuang.

uDok.Wawancara dengan pengelola Wisata Budaya Kampung Pulo

Kampung pulo merupakan sebuah kampung adat yang terletak di disebuah pulau kecil Situ Cangkuang sekaligus berada di lokasi cagar budaya wisata garut Candi Cangkuang. Kampung Pulo berada di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Jarak tempuh menuju lokasi ini kurang lebih sekitar 16,1 km dari terminal Garut dengan jarak tempuh kurang lebih sekitar 36 menit perjalanan menggunakan kendaraan dan kurang lebih sekitar 2,7 km dari alun-alun Leleles dengan jarak tempuh menggunakan kendaraan kurang lebih sekitar 15 menit perjalanan.

Sejarah Candi Cangkuang

Candi Cangkuang pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita berdasarkan laporan Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap terbitan tahun 1893 mengenai adanya sebuah arca yang rusak serta makam kuno di bukit Kampung Pulo, Leles. Makam dan arca Syiwa yang dimaksud memang diketemukan. Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan sebuah bangunan candi.[1] Makam kuno yang dimaksud adalah makam Arief Muhammad yang dianggap penduduk setempat sebagai leluhur mereka. Selain menemukan reruntuhan candi, terdapat pula serpihan pisau serta batu-batu besar yang diperkirakan merupakan peninggalan zaman megalitikum. Penelitian selanjutnya (tahun 1967 dan 1968) berhasil menggali bangunan makam.

blob:https://web.whatsapp.com/cff40e80-5429-4e3f-8e90-731d4280b9fc

Doc.Wisata Budaya Candi Cangkuang

Walaupun hampir bisa dipastikan bahwa candi ini merupakan peninggalan agama Hindu (kira-kira abad ke-8 M, satu zaman dengan candi-candi di situs Batujaya dan Cibuaya?), yang mengherankan adalah adanya pemakaman Islam di sampingnya.

Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan bangunan

candi dan di sampingnya terdapat sebuah makam kuno berikut sebuah arca Syiwa yang terletak di tengah reruntuhan bangunan. Dengan ditemukannya batu-batu andesit berbentuk balok, tim peneliti yang dipimpin Tjandrasamita merasa yakin bahwa di sekitar tempat tersebut semula terdapat sebuah candi. Penduduk setempat seringkali menggunakan balok-balok tersebut untuk batu nisan.

Berdasarkan keyakinan tersebut, peneliti melakukan penggalian di lokasi tersebut. Di dekat kuburan Arief Muhammad peneliti menemukan fondasi candi berkuran 4,5 x 4,5 meter dan batu-batu candi lainnya yang berserakan. Dengan penemuan tersebut Tim Sejarah dan Lembaga Kepurbakalaan segera melaksanakan penelitian didaerah tersebut. Hingga tahun 1968 penelitian masih terus berlangsung. Proses pemugaran Candi dimulai pada tahun 1974-1975 dan pelaksanaan rekonstruksi dilaksanakan pada tahun 1976 yang meliputi kerangka badan, atap dan patung Syiwa serta dilengkapi dengan sebuah joglo museum dengan maksud untuk dipergunakan menyimpan dan menginventarisir benda-benda bersejarah bekas peninggalan kebudayaan dari seluruh Kabupaten Garut. Dalam pelaksanaan pemugaran pada tahun 1974 telah ditemukan kembali batu candi yang merupakan bagian-bagian dari kaki candi. Kendala utama rekonstruksi candi adalah batuan candi yang ditemukan hanya sekitar 40% dari aslinya, sehingga batu asli yang digunakan merekonstruksi bangunan candi tersebut hanya sekitar 40%. Selebihnya dibuat dari adukan semen, batu koral, pasir dan besi.

Candi Cangkuang merupakan candi pertama dipugar, dan juga untuk mengisi kekosongan sejarah antara Purnawarman dan Pajajaran. Para ahli menduga bahwa Candi Cangkuang didirikan pada abad ke-8, didasarkan pada tingkat kelapukan batuannya, serta kesederhanaan bentuk (tidak adanya relief).

Doc.Candi Cangkuang

Bangunan Candi

Bangunan Candi Cangkuang yang sekarang dapat kita saksikan merupakan hasil pemugaran yang diresmikan pada tahun 1978. Candi ini berdiri pada sebuah lahan persegi empat yang berukuran 4,7 x 4,7 m dengan tinggi 30 cm. Kaki bangunan yang menyokong pelipit padmapelipit kumuda, dan pelipit pasagi ukurannya 4,5 x 4,5 m dengan tinggi 1,37 m. Di sisi timur terdapat penampil tempat tangga naik yang panjangnya 1,5 m dan lébar 1,26 m.

Tubuh bangunan candi bentuknya persegi empat 4,22 x 4,22 m dengan tinggi 2,49 m. Di sisi utara terdapat pintu masuk yang berukuran 1,56 m (tinggi) x 0,6 m (lebar). Puncak candi ada dua tingkat: persegi empat berukuran 3,8 x 3,8 m dengan tinggi 1,56 m dan 2,74 x 2,74 m yang tingginya 1,1 m. Di dalamnya terdapat ruangan berukuran 2,18 x 2,24 m yang tingginya 2,55 m. Di dasarnya terdapat cekungan berukuran 0,4 x 0,4 m yang dalamnya 7 m.

Di antara sisa-sisa bangunan candi, ditemukan juga arca (tahun 1800-an) dengan posisi sedang bersila di atas padmasana ganda. Kaki kiri menyilang datar yang alasnya menghadap ke sebelah dalam paha kanan. Kaki kanan menghadap ke bawah beralaskan lapik. Di depan kaki kiri terdapat kepala sapi (nandi) yang telinganya mengarah ke depan. Dengan adanya kepala nandi ini, para ahli menganggap bahwa ini adalah arca Siwa. Kedua tangannya menengadah di atas paha. Pada tubuhnya terdapat penghias perut, penghias dada dan penghias telinga.

Keadaan arca ini sudah rusak, wajahnya datar, bagian tangan hingga kedua pergelangannya telah hilang. Lebar wajah 8 cm, lebar pundak 18 cm, lebar pinggang 9 cm, padmasana 38 cm (tingginya 14 cm), lapik 37 cm & 45 cm (tinggi 6 cm dan 19 cm), tinggi 41 cm.

Candi Cangkuang sebagaimana terlihat sekarang ini, sesungguhnya adalah hasil rekayasa rekonstruksi, sebab bangunan aslinya hanyalah 40%-an. Oleh sebab itu, bentuk bangunan Candi Cangkuang yang sebenarnya belumlah diketahui.

Candi ini berjarak sekitar 3 m di sebelah selatan makam Arif Muhammad/Maulana Ifdil Hanafi.

TAMAN SATWA CIKEMBULAN

Sebuah taman satwa satu-satunya di Jawa Barat yang mempunyaii koleksi cukup lengkap dari berbagai jenis burung, Reptil, primata, mamalia dan kucing besar. Tempat yang cocok untuk mengahbiskan waktu anda bersama keluarga dan mengenal lebih dekat dengan dunia binatang. 
Di Taman Satwa Cikembulan menyediakan pula tempat makan dan souvenir. 

Doc.Wisata Taman Satwa Cikembulan Garut,Wawancara dengan Pengelola Bapak Willy

Taman Satwa cikembulan adalah sebuah tempat rekreasi yang dikenal sebagai sebuah kebun binatag yang sederhana yang di huni oleh dua ratus empat belas spesies binatang di dalamnya, diantara binatang yang ada di taman satwa ini adalah macan tutul, harimau sumatera, beberapa jens kera, burung-burung serta hewan-hewan lindung lainnya. Berdirinya Taman satwa Cikembulan adaah berkat kreatifitas warga yang dirintis dan direncanakan bersama-sama, hal ini merupakan suatu prestasi dan kebanggaan bagi penduduk Kabupaten Garut. Taman Satwa Cikembulan Terletak di Desa Cikembulan Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut 

Di taman satwa ini kita bisa menikati berbagai tempat untuk bersantai melihat pemandangan serta menjadikan temat ini sebagai tempat makan bareng bersama keluarga, selain itu kita bias melihat berbagai hewan liar dari dekat secara langsung. Bagi yang berkunjug bersama anak-anak di tempat ini mereka akan di manjakan oleh berbagai wahana alternatif seperti bebek air, naik kuda, mobi kecil dan motor ATV. Untuk wisatawan yang punya hobi memancing di tempat ini tersedia sarana pemancingan. Whana-wahana tersebut tentu akan membuat rekreasi kita sangat berkesan.


Fasilitas: 

Tiket masuk Taman Satwa Cikembuan adalah Rp. 10.000-, untuk dewasa, dan Rp. 5.000-, untuk anak-anak
Wahana permainan anak diantaranya seperti bebek air, naik kuda, mobi kecil dan motor ATV
Sarana pemancingan yang akan memanjakan wisatawan yang hobi mancing
Food court mini yang siap melayani berbagai makanan dan minuman
Tempat-tempat peristirahatan, tempt ini digunakan sekedar untuk beristirahat melihat pemandangan atau tempat untuk makan-makan bersama keluarga
Mushola, toillet dan lain-lain. 

Alamat Taman Satwa Cikembulan Garut

Lokasi Taman Satwa Cikembulan Terletak di Desa Cikembulan Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat

Akses Jalan menuju Taman Satwa Cikembulan 

Untuk sampai di taman Satwa Cikemblan, dari jalan utama Bandung-Garut berhenti di Desa Cikembulan Kec.kadungora (Garut) lalu dari sana naik ojek ataupun delman yang jaraknya kurang lebih sekitar 2,5 km dari jalan utama. 

Jika naik kendaraan pribadi anda bias mengikuti jalur utama bandung-garut / Badnung-Jakarta, saat sampai kec.Kadungora namun anda belum mengetahui route selanjutnya, anda bias menanyakan penduduk setempat, berkat keramahan penduduk setempat dijamin anda akan diberitahu jalur yang akan dilewati dengan tepat dan benar 

Kebun Binatang Cikembulan Garut / Taman Satwa Cikembulan Kadungora yang berada di Kabupaten Garut ya itu di Kecamatan Kadungora. Garut merupakan kota kecil yang begitu menarik untuk kita kunjungi, di sana banyak sekali tempat 
wisata untuk di jelajah, walaupun kota kecil tapi tempat rekreasi sangat begitu banyak yang menjadi pilihan kita.

Mulai dari alam, pegunungan, pemandian air panas dan masih banyak lainnya, nah salah satunya Taman Satwa Cikembulan. Lokasi ini belum begitu banyak orang luar mengetahuinya karena masih kurangnya promosi baik dari pihak swasta maupun pemerintahan setempat.

Tujuan dibuatnya tempat wisata ini adalah untuk mewujudkan masyarakat desa wisatasecara terpadu dengan objek wisata situ Cangkuang. Di Taman Satwa Cikembulan ini, selain dapat melihat dan menyaksikan beberapa satwa yang terdiri dari 159 satwa dengan 40 spesies, wisatawan juga bisa menikmati produk kuliner, sarana bermalam bahkan ada tempat seperti pendopo untuk melakukan pertemuan berkapasitas 100 orang.

Sarana wisata di sekitar Taman Satwa Cikembulan yang bersuasana alami yang langsung berhadapan dengan Gunung Haruman, dimana gunung ini tempat lepas landas para penerbang olahraga paragliding, sehingga kita bisa menikmati keindahan alamnya yang begitu indah dan suasana sejuk. Panorama alam ini bisa sekaligus di saksikan langsung oleh kita dari area Taman Satwa Cikembulan Garut.

Taman Satwa Cikembulan ini milik pengusaha swasta yang bernilai sekitar 5 M tersebut, dihuni sekelompok mamalia. Antara lain beruang, rusa, babi hutan, reptilia seperti buaya, eves, yakni burung juga termasuk burung garuda serta kelompok primata yaitu kera, bahkan sekarang sudah didatangkan harimau Sumatera untuk melengkapi satwa yang ada di sekitar taman satwa cikembulan.

Suasana di taman satwa ini dengan alamnya yang sangat menyejukan yang sekaligus di kelilingi hamparan hutan yang hijau serta hamparan pesawahan yang membuat suasana semakin enak di pandang dan memberikan kesan tersendiri bagi diri kita saat kita berada disana.

Mungkin untuk orang Jakarta ataupun Bandung serta kota besar lainnya tidak begitu aneh dengan adanya Kebun Binatang, Taman Satwa Cikembulan di Kadungora Kabupaten Garut. Akan tepai salah satu perbedaan dari Taman Marga Satwa di Garut ini memiliki visioner ke depan, berupa rencana pengembangan dan pengelolaan hingga 30 tahun mendatang.


Selain itu, juga terdapat rencana ruang lima tahunan serta tahunan, ungkap manager Taman Satwa itu, Rudy Arifin, SE kepada Hotel di Garut, Taman Satwa dihuni 113 spesies dengan 510 populasi satwa ini, juga kini mengemas paket miniatur cenderamata bagi pengunjung serta beragam ikon Taman Satwa.

Karena kini antara lain dihuni empat orang utan/ dua pasang, sepasang harimau Sumatera, Macan Tutul, Beruang Madu, bahkan saat ini pun diproses kehadiran singa jantan kiriman dari Jawa Timur. Rusa Tutul juga kian berkembang biak, menyusul belum lama ini melahirkan anak baru.

Sedangkan penataan lain, di antaranya pembangunan Museum Satwa Langka Dilindungi Undang-Undang, penambahan toilet refrensentatif, pemagaran serta penyediaan bangunan pembelian karcis. Direalisasikan pula penataan beragam jenis vegetasi, termasuk sarana bermain anak, dan ruang terbuka hijau bagi keluarga. Dari Total areal sekitar lima hektare.

Ke depan pun dikemas paduan potensi pariwisata dengan pertanian secara luas dan menyeluruh. Sehingga sarana konservasi ini, dipastikan bisa memiliki klasifikasi layak kunjung. 

misalnya di Hotel Bintang Redannte ataupun di Villa Edelweiss Cipanas, berkunjung ke Taman Satwa Cikembulan Kadungora bisa menjadi alternatif tambahan target kunjungan Objek Wisataselain jalan ke Sinar Alam Darajat

  1. KAMPUNG SAMPIREN

Garut merupakan salah satu kota yang ada di propinsi Jawa Barat ini sendiri tak hanya dikenal dengan berbagai macam kuliner khasnya yang sangat lezat dan enak sekali seperi dodol garut dan yang lainnya, atau berbagai macam kawasan wisata alamnya yang juga sudah banyak yang terkenal keseantero jagad. Namun ternyata di kota garut ini juga terdapat sebuah resort & spa yang unik yaitu Kampung Sampireun, dimana Kampung Sampireun ini sendiri memiliki keunikan, dan keindahan dan tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak para wisatawan yang berkunjung ke kota Garut. Kampung Sampireun ini didesain dengan tema dan suasana perkampungan asli nuansa sunda dan terletak di kampung ciparay, desa sukakarya, kabupaten Garut Jawa Barat. Luas dari kampung ini sendiri sekitar 3.6 h, dan memiliki 7 mata air, dan kawasan kampung resort ini sendiri sudah mulai diresmikan sejak tahun 1999.

Dok.Dengan Manager

Kampung sampireun ini sendiri menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang datang berkunjungi kekota Garut. Karena ada banyak sekali berbagai macam fasilitas yang bisa dinikmati oleh para pengunjung yang datang kekawasan ini. Banyak dari para wisatawan yang menginap dikawasan kampung ini karena terpikat dengan keunikan yang ada ditempat ini.  Kampung Sampireun sendiri memilikki bungalow sebanyak 22 unit dan 20 unit Villa Garden. Jadi para pengunjung yang datang kekawasan wisata resort yang bernuansa kampung ala sunda ini pun bisa memilih sendiri type penginapan yang sesuai dengan kebutuhan. Cocok sekali dijadikan tempat berlibur bersama keluarga atau untuk para pasangan yang baru saja menikah dan ingin menikmati sensasi berbulan madu yang unik dan berbeda.

Alamat: Kampung Sampireun, Jl. Raya Samarang Kamojang, Samarang, Garut.

Berbagai macam bungalow tersebut pun didesain seperti ruamh khas panggung tatar sunda parahayang, sehingga tak heran kalau resort ini sangat kental sekali nuansa perkampungan sundanya. Selain itu juga ada fasilitas lainnya seperti restaurant seruling bambu, bale putri amantie, warung kopi kampung yang menjadi salah satu tempat untuk berinteraksi antara warga sekitar dengan para tamu yang sedang berkunjung kekawasan kampung ini, lalu ada juga taman sanghyang tradisional, meeting room yang bisa menampung hingga sekitar 45 orang, lalu ada taman sanghnyang dayu garden yang biasanya sering digunakan untuk dinner party, kolam renang dan masih banyak lagi berbagai macam fasilitas menarik lainnya yang terdapat pada kampung sampireun ini.

FAKTOR PENGHAMBAT

Yaitu akses jalan yang kurang bagus dan tempatnya yang kurang dekat dari kota,mengakibatkan masyarakat atau para wisata menghambat dating ke Kampung sampireun.

4. KUE BALOK



Kue khas warga Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut ini memang sudah lama dikenal memiliki cita rasa tinggi. Warga Garut yang kerap merantau ke luar kota, tentu kangen dengan kue ini jika mudik ke Garut.

Selain lembut dan empuk di mulut, kue si raja balok ini memberikan sensasi baru berupa lumuran cokelat hangat yang masih mencair. “Aneh saja, kue balok cokelat dan cokelatnya melumer,

Laris Manis

Di hari biasa atau momen tertentu seperti liburan panjang, kue balok brownies manis ini laris manis.

Pemilik kue balok brownies si Raja Balok, Merlin mengatakan, resep kue lezat yang ia jual memang terletak pada adonan yang digunakan. “Saya pilih barang kualitas satu, mulai terigu, susu, mentega, gula hingga cokelat, tidak ada yang aneh (resep), saya jamin bebas bahan pengawet,”
            Tak mengherankan, meskipun terbilang baru berjualan lima tahun terakhir, pelanggan setianya tetap mengejar. “Awalnya saya buka di pengkolan (pusat kota) Garut, namun karena dikomplain sering bikin macet akhirnya saya pindah ke sini,” ujar dia mengingat perjuangannya mengawali jualan brownies meler ini.

Ia mengatakan, rata-rata omset jualan di hari biasa mencapai 30 boks (1 boks berisi 350 buah kueh balok). Bahkan jika momen tertentu saat liburan panjang, penjualannya lebih laris lagi karena bisa mencapai 40 boks.
            Untuk menghasilkan kue yang empuk, sebanyak tiga tungku dengan bahan dasar arang kayu pete sengon siap membara. Wawan Setiawan, salah satu pegawai kue si Raja Balok mengatakan, penggunaan kayu bakar dimaksudkan agar menghasilkan bara api yang merata serta aroma wangi buat kue.

 

Penjualan kue balok brownies meler ini laris manis setiap harinya.

“Kalau terlalu panas gampang gosong, atau terlalu pelan apinya tidak optimal adonan mengembangnya, makanya pakai arang kayu jadi lebih bagus pembakarannya,


BAB III

PENUTUP

A.     Kesimpulan

Gagasan tentang warisan cultural dipandang sebagai aspek penting yang harus dilindungi dalam rangka mencari identitas nasional dilandasi oleh hasrat sederhana untuk mengabdikan kegemilangan masa silam. Sebagaimana disebutkan di muka, pluraristik (keragaman) budaya khususnya seni pertunjukkan yang dimilikinya dapat sebagai sumber daya dalam pembangunan pariwisata berwawasan budaya.

Selama ini berbagai paguyuban etnis Nusantara yang terdapat di Bali khususnya Denpasar memiliki potensi budaya asalnya namun keberadaannya antara hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat belum bisa dirasakan, sehingga keragaman budaya khususnya seni pertunjukan daerahnya belum terjamah dan dimanfaatkan secara maksimal dalam mendukung pembangunan pariwisata berwawasan budaya.

Dengan demikian perlu adanya interaksi dan dialog-dialog yang intensif antara paguyuban etnis nusantara dengan lembaga formal khususnya pemerintah daerah dan organisasi-organisasi sosial lainnya seperti sanggar seni, sekaa-sekaa guna mendukung visi dan misi pembangunan daerah yang berwawasan budaya.

B.   Saran

Solusi yang sekiranya paling bijaksana adalah membangun simbiosis mutualisma antara pariwisata dan budaya. Artinya, sambil mengembangkan sektor pariwisata, kita juga turut serta melestarikan lingkungan budaya kita. Sambil melestarikan kebudayaan kita, kita mengemas pelestarian tersebut dengan berorientasi pada pariwisata. Jika hal itu dapat teruwujud, semaju apapun negara kita, kebudayaan tradisional akan tetap terpelihara tanpa mengabaikan pengembangan pariwisata.

Diterbitkan oleh Dian Rustandi

Saya Adalah seorang mahasiswa yang lagi menuntut Ilmu untuk memajukan tanah Air Indonesia. Saya Cinta Indonesia

One thought on “TUGAS OBSERVASI PENELITIAN, PARIWISATA DI GARUT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: